Autobiography Review: Kelam dalam Dambaan

Sedang Trending 8 bulan yang lalu

Pada satu titik, mengidam-idamkan sosok tertentu dalam hidup adalah perihal nan sangat wajar. Akan tetapi, tak selamanya apa nan diidolakan bisa selalu ideal, terutama jika semuanya sudah terlalu ekstrem seiring waktu. Setidaknya, itulah sajian utama dalam ‘Autobiography’ nan sedang tayang di bioskop.

‘Autobiography’ merupakan movie thriller drama yang menjadi debut penyutradaraan movie panjang Makbul Mubarak. Memboyong Kevin Ardilova dan Arswendy Bening Swara sebagai pemeran utamanya, movie berpusat pada sosok Rakib nan mendampingi Purna ketika menjalani masa pensiunnya. Menjadi pendamping Purna sehari-hari, Rakib mulai mengagumi sosok Purna meski semuanya berubah ketika rangkaian peristiwa mengerikan melibatkan keduanya.

Autobiography

Film panjang perdana pengarahan Makbul Mubarak ini dikemas dalam alur linear yang sepenuhnya maju. Bangunan cerita sendiri dipusatkan pada ragam dialognya seakan meminta penonton untuk meletakkan perhatian sepenuhnya pada ‘Autobiography’. Dengan plot nan dikemas secara runtut, kisahnya terlihat simpel namun tetap sarat bakal muatan moral seiring durasinya.

Dalam durasinya nan nyaris mencapai dua jam, ‘Autobiography’ banyak bermain dalam menguji moralitas penonton melalui muatannya. Opresi penguasa, tunduknya generasi baru pada nan tua, hingga pujaan nan tak selamanya ideal menjadi beberapa singgungan dalam cerita utamanya. Diusung dengan tone yang terasa kelam, ketegangan sukses ditampilkan dan mudah sekali untuk penonton dibuat goyah karenanya.

Sebagai central character dari ‘Autobiography’, eksistensi Rakib dan Purna adalah jiwa nan membuatnya terasa hidup. Kisah-kisah nan dibangun meliputi keduanya bisa dibilang adalah gambaran satu sama lain sebagai simbol dari admiration pada generasi nan lebih berpengalaman.

Hidupnya kedua karakter tersebut tentu disajikan dengan menawan oleh Kevin Ardilova dan Arswendy Bening Swara melalui cakupan emosi luas nan tertampil dengan nyata di depan layar.

Menawannya narasi dan karakterisasi dari ‘Autobiography’ diimbangi pula dengan teknis sinematik berskala festival. Sinematografi nan condong shaky dengan tema warna nan cool memberikan kesan penuh twist seiring bergulirnya cerita, dengan paduan scoring bernuansa menegangkan dan iringan environment sound yang terdengar alami.

Akhir kata, ‘Autobiography’ adalah sajian menegangkan mengenai kelamnya mengidolakan seseorang dalam hidup. Melalui ragam representasinya nan terasa artsy, menikmati movie panjang perdana dari sutradara Makbul Mubarak di layar lebar adalah sesuatu nan pantang sekali untuk dilewatkan.