Bones and All Review: Jika Sid and Nancy adalah Pasangan Kanibal

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

“Bones and All” merupakan film romance horror nan disutradarai oleh Luca Guadagnino. Film ini lagi-lagi merupakan penyesuaian novel setelah sebelumnya Guadagnino menyutradarai movie drama romantis, “Call Me By Your Name” (2017).

“Bones and All” diadaptasi dari novel berjudul sama karya Camille DeAngelis nan juga bergenre romansa namun dengan komponen seram nan bakal memberikan pengalaman berbeda dan tak terlupakan bagi kita. Film ini dibintangi oleh Taylor Russell dan Timothee Chalamet sebagai pasangn kanibal muda, Maren dan Lee. Adapula tokoh nan meramaikan movie ini dengan penampilan mereka nan memikat, Michael Stuhlbarg, Andre Holland, Chloe Sevigny, dan Mark Rylance.

Film ini sedikit mengingatkan kita pada movie Prancis, “Raw” (2016) oleh Julia Ducourna, dimana mengikuti perjalanan seorang remaja wanita nan mengeksplorasi sifat kanibalisme dalam diri mereka, menjadi bagian dalam kisah coming of age mereka. Bedanya, “Bones and All” mempunyai komponen romansa nan lebih banyak dan perjalanan nan lebih sadis dan barbar. “Bones and All” sedang tersedia di-streaming di Prime Video.

Bones and All Review

Perjalanan Kanibal Muda dalam Menemukan Tempatnya di Dunia

Maren menjadi karakter konsentrasi namalain protagonis dalam “Bones and All”, remaja 18 tahun nan ditinggalkn oleh ayahnya untuk menemukan jalan hidupnya sendiri sebagai seorang kanibal. Berbeda dengan movie bertema kanibal pada umumnya, movie ini seakan mempunyai semesta horornya sendiri, konsep dimana ada banyak kanibal nan mungkin saja tak jauh sama lain. Hal tersebut menjadi pelajaran pertama bagi Maren; bahwa dia tidak sendirian di bumi ini sebagai manusia dengan nafsu tidak biasa.

Berlatar pada era 80an, kita bakal mengikuti perjalanan Maren layaknya hewan galak muda nan dilepas di alam liar untuk belajar memperkuat hidup sendiri. Plot utamanya adalah Maren memutuskan untuk pergi ke Minnesota untuk menemukan ibu kandungnya nan tidak pernah dia temui sejak lahir. Dalam perjalanan, dia berjumpa dengan Lee, pemuda nan akhirnya menjadi kawan hingga partner in crime sebagai sesama kanibal.

Dalam perjalanannya, Maren mengalami momen menyenangkan berbareng Lee, hingga tragedi dan seram dengan phasing nan tepat. “Bones and All” merupakan sajian movie unik dimana banyak aliran nan saling bertolak belakang tergabung menjadi satu. Namun mempunyai presentasi nan sempurna sebagai movie dengan plot nan memikat. Phasing antara segmen tenang nan romantis dengan sekuen-sekuen thriller horror-nya sudah sangat tepat.

Bones and All Review

Lembut Namun Brutal, Indah Namun Tak Wajar

“Bones and All” seakan menunjukan bahwa movie drama remaja dengan komponen horror fantasy juga bisa menjadi sajian artistik jika digodok keahlian filmmaker nan berkelas.

Film seperti ini bisa menjadi trendsetter untuk mematahkan stigma movie drama remaja seperti franchise “Twilight”, “Warms Bodies”, dan sejenisnya untuk mempunyai konsep naskah dan kreasi produksi nan artistik. Sama seperti gimana “It Follows” (2014) merupakan movie teen slasher nan terlihat berbobot secara sinematik dalam skenanya.

“Bones and All” adalah movie romansa seram nan lembut namun brutal, bagus namun tak wajar. Kita dibawa untuk menyelami kisah coming of age Maren, kemudian perkembangan hubungan romansanya dengan Lee nan lembut, serta beberapa momen seram nan brutal, gore, dan sadis. Dimana semuanya melebur menjadi satu dalam final act nan bakal meninggalkan kesan mendalam bagi penontonnya. Baik sebagai sesuatu nan traumatis alias pemahaman cinta nan mendalam dalam metafora “Bones and All”. Lagi-lagi Luca Guadagnino sukses membikin penonton termenung selagi ending credit diputar. Ada banyak perihal nan kudu dicerna oleh penonton dari movie ini.

Keahlian Luca Guadagnino Mengadaptasi Novel Jadi Sajian Sinematik nan Indah

Sebetulnya konsep cerita “Bones and All” bukan sesuatu nan baru lagi dalam skenanya, namun presentasinya nan membikin movie ini terlihat original dan otentik. Luca Guadagnino telah mempunyai signature sebagai filmmaker dengan vibes drama emosional nan melankolis dan erotis. Sutradara ini memang mempunyai spesialisasi dalam mempresentasikan sesuatu nan sadis menjadi sesuatu nan bagus dengan pesonanya sendiri. Dalam bumi film, keelokan juga bisa ditemukan dalam movie seram apalagi movie bertema kanibal seperti “Bones and All”, Guadagnino sukses membuktikan perihal tersebut melalui movie ini.

Ada sedikit perbedaan prinsip dalam ending movie ini dari materi sumbernya. Jika novel memperlihatkan perspektif pandang Maren sebagai kanibal hingga gimana dia akhirnya menemukan jati dirinya, dalam movie Luca Guadagnino ini, segmen penutup lebih ambigu dan multitafsir. Setidaknya nan terlihat lebih pada gimana akhir dan makna cinta di antara Maren dan Lee nan mendalam sesuai dengan jati diri mereka sebagai kanibal. Dinamika romansa dan perjalanan Maren dan Lee seumpama Syd dan Nancy jika mereka adalah pasangan kanibal.

Secara keseluruhan, “Bones and All” mungkin bukan movie drama romantis seram untuk pencinta aliran romansa mainstream. Tema cerita seperti memang sangat niche dan bukan sesuatu nan menggema dengan perspektif pribadi orang pada umumnya. Namun tak diragukan “Bones and All” harusnya bisa menjadi contoh bagi filmmaker ke depannya jika hendak mengangkat movie coming of age dengan romantisme makhluk non-human nan juga bisa berbobot dan artstik secara sinematik.