The Whisperers: Menerima Kerentanan Sebagai Perempuan Renta dalam Masa Krisis

Sedang Trending 10 bulan yang lalu

Salah satu movie klasik dalam aliran drama hasil penyesuaian novel karya Robert Nicolson nan patut ditonton adalah “The Whisperers” (1967). Film ini diarahkan oleh Bryan Forbes dan diproduksi oleh Seven Pines.

Dengan visual nan tetap monokrom, movie ini berlatar di Inggris pada masa krisis ekonomi di tahun nan sama. Tokoh utama dibintangi oleh Edith Evans sebagai Mrs. Margaret Ross. Kesuksesan movie ini membawanya kepada beragam penghargaan, termasuk Edith sendiri sebagai best actress di BAFTA dan Golden Globe.

Mrs. Ross adalah seorang wanita berumur lanjut nan berada dalam kondisi finansial nan jelek sepeninggal suaminya. Ia menggunakan segala langkah agar dapat memperkuat dari hari ke hari, termasuk mengarang surat dari suami dan ayahnya agar mendapatkan support dari pemerintah Inggris. Di tengah kesulitannya, anaknya nan berjulukan Charlie datang dengan lagak nan mencurigakan.

Nasib Mrs. Ross mulai berubah ketika dia menemukan beberapa duit dalam jumlah cukup banyak nan disembunyikan oleh Charlie ketika mengunjunginya. Nasibnya sempat membaik, tetapi musibah juga mengikutinya. Ia ditipu oleh kawan barunya sehingga kudu dirawat di rumah sakit. Suaminya, Archie Ross, sempat mendampingi kembali istrinya. Akan tetapi, dia justru memanfaatkan kekayaan istrinya dan meninggalkannya lagi. Mrs. Ross kembali menjadi sosok wanita tua nan kesenyapan dan mengganggap dinding-dinding rumahnya berbisik kepadanya.

Dari perspektif pandang masa kini, “The Whisperers” termasuk movie klasik nan tetap patut diperhitungkan. Dengan alur nan sederhana, movie ini menampilkan kondisi masyarakat di Inggris pada masa krisis. Sekuen cerita nan dihadirkan dalam movie klasik ini cukup rapi untuk produksi dari tahun 1960-an, tetapi terlalu perincian pada adegan-adegan nan semestinya cukup ditampilkan secara singkat. Fokus cerita juga terlalu lama beranjak ke masalah sang suami sebelum akhirnya membahas konfrontasi akhir Mrs. Ross dengan pihak berwenang.

Sutradara juga memberikan perhatian unik terhadap latar untuk mendukung suasana cerita. Lingkungan perumahan tempat Mrs. Ross tinggal nan separuh hancur dan gersang menggambarkan status sosialnya nan berada di kalangan menengah ke bawah. Rumah Mrs. Ross ikut berubah dari acak-acakan menjadi rapi sejak nasibnya semakin membaik.

Secara moralitas, movie ini tetap berpegang kepada standar masyarakat terhadap wanita nan bakal bernasib baik jika mempunyai suami dan anak. Mrs. Ross menjadi simbol atas nasib buruknya sebagai janda tua. Archie bisa menghilangkan rasa sunyi dalam akal Mrs. Ross, tetapi dia juga tidak terkejut lantaran telah mengenal kebiasaan jelek suaminya. Di sisi lain, Charlie bisa mematahkan emosi tegar Mrs. Ross akibat kerinduannya sebagai seorang ibu. Kelebihan movie ini justru terlihat dengan menunjukkan secara realistis bahwa orang-orang bisa datang dan pergi begitu saja.

Edith sukses menyajikan sosok Mrs. Ross sebagai janda tua nan mencoba memperkuat semampunya. Tidak banyak aktris nan bisa memerankan tokoh wanita tua dengan tidak berlebihan. Edith seolah menyadari karakter Mrs. Ross nan tidak sepenuhnya lemah secara fisik, tetapi bunyi dan mimik wajahnya bisa dieksplorasi secara lebih maksimal untuk menggambarkan sosok janda nan putus asa lantaran tidak mempunyai pekerjaan, tidak mempunyai keluarga, dan dipandang rendah.

Interaksi Mrs. Ross dengan orang sekitar tidak hanya memperlihatkan diskriminasi nan dialaminya, tetapi juga memberikan petunjuk atas karakternya. Ia tidak diacuhkan oleh petugas nan semestinya melayani keluhannya. Ia pergi ke perpustakaan untuk menghibur diri, tetapi justru diremehkan oleh pegawai di sana. Ia juga ditertawakan ketika ikut berseru di gereja. Berbagai pengalaman tersebut membentuk sikapnya nan ketakutan dan skeptis. Seluruh sekuen cerita tersebut seolah menyadarkan penyebab di kembali sifatnya sebagai nenek-nenek nan mudah terusik dan penuh curiga.

Mrs. Ross baru mengalami perkembangan karakter nan signifikan ketika menemukan duit milik Charlie. Seperti halnya seseorang nan tiba-tiba menjadi kaya, dia berubah menjadi periang, histeris, memanjakan dirinya sendiri, tetapi tetap bersikap skeptis. Edith sempat menyajikannya dengan sedikit berlebihan, tetapi cukup untuk menimbulkan kesan nan dramatis.

Meskipun terdapat segmen Mrs. Ross nan rutin pergi di gereja, kehadiran kepercayaan tidak memberikan pembelaan nan berfaedah dalam bentrok dan diskriminasi nan dialaminya. Gereja hanya berdiri sebagai formalitas. Alih-alih menunjukkan sosok nan lebih tegar setelah mengalami katarsis, Mrs. Ross justru menjadi semakin lemah dan tidak berdaya. Kisahnya berhujung sebagai sosok di awal cerita nan tenggelam dalam halusinasinya. Film ini justru menunjukkan tekanan terhadap wanita dapat diwajarkan begitu saja pada masa tersebut, baik oleh laki-laki maupun sesama perempuan.

Kritik dalam movie ini menyasar kondisi lingkungan nan tidak kondusif bagi masyarakat berumur lanjut, terutama perempuan. Film ini layak menjadi pengingat tentang rentannya posisi wanita dalam diskriminasi masyarakat di masa lampau. Kinerja lembaga pemerintah juga dirasa kurang efektif dalam mendukung masyarakat untuk menghadapi krisis.

“The Whisperers” berpotensi mendapatkan remake dengan visual nan lebih baik dan cerita nan lebih kritis terhadap rentannya wanita dalam masa krisis. Film ini juga dapat terhubung dengan mudah terhadap kondisi masyarakat saat ini, terutama ketika Inggris kembali mengalami krisis ekonomi nan nyaris serupa di tahun ini.